Perbedaan Oksigen Medis Dan Oksigen Alami | Robotika Indonesia

Perbedaan Oksigen Medis Dan Oksigen Alami | Robotika Indonesia

Robotika Indonesia – Kalian udah tau belum nih apa itu Perbedaan Oksigen Medis Dan Oksigen Alami???. Oksigen medis sangat di perlukan pasien dengan masalah pernapasan berat termasuk pada pasien Covid-19. Namun, apa bedanya oksigen medis dengan yang alami? Kepala Layanan Klinis di program darurat milik Badan Kesehatan Dunia (WHO), Janet Diaz, berkata infeksi Covid-19 yang cukup parah membuat kadar oksigen tubuh begitu rendah.

“Ketika kadar oksigen rendah karena penyakit seperti Covid-19, sel-sel dalam tubuh tidak memiliki fungsi normalnya. Jadi jika kadar oksigen rendah, untuk waktu lama, jika tidak di obati, maka sel-sel itu sendiri berhenti bekerja dengan baik. Mereka benar-benar bisa mati,” jelas Diaz melalui sebuah video wawancara yang di tayangkan di laman resmi WHO.

Arief Bakhtiar, Staf Pengajar Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FK Unair, mengatakan dalam kondisi normal frekuensi napas sebanyak 20 kali per menit. Namun saat tubuh kekurangan oksigen, paru akan berusaha meningkatkan frekuensi napas. Secara fisiologis, peningkatan frekuensi napas ini umum di sebut sesak. Pada Covid-19, mekanisme ini tidak kentara.

1. Kadar Oksigen

Salah satu perbedaan mendasar dari oksigen medis dan oksigen alami adalah kadarnya. “Kalau oksigen tabung [atau oksigen medis] kadar oksigennya 100 persen, sedangkan oksigen di udara bebas hanya 21 persen,” kata Erlang Samoedro, ahli pulmonologi, melalui pesan singkat, Selasa.

Sebagaimana di lansir Smithsonian Magazine, secara umum komposisi udara bebas terdiri dari 78 persen nitrogen, 21 persen oksigen, 0,93 persen argon, dan 0,038 persen karbondioksida.

Pasien Covid-19 atau pasien dengan masalah pernapasan lain memerlukan oksigen yang lebih banyak dari biasanya. Arief berkata oksigen di udara bebas jelas tidak cukup sehingga di perlukan oksigen medis dengan kadar tinggi dan di berikan secara kontinyu.

2. Cara Memperoleh

Buat paru-paru sehat dan berfungsi baik, oksigen yang di hirup dari udara bebas akan di pindahkan ke aliran darah dan di bawa ke seluruh tubuh. Menurut American Lung Association, di tiap sel tubuh, oksigen di tukar dengan gas buangan atau karbon di oksida. Aliran darah membawa gas limbah kembali ke paru-paru, lalu di hembuskan.

Mekanisme ini tetap berlaku pada pasien Covid-19. Namun pemberian oksigen medis akan lebih mencukupi kebutuhan pasien. Oksigen medis di peroleh dari udara bebas dan di kompres sehingga hanya oksigen yang di ambil. Menurut Al-Jazeera, untuk kekurangan oksigen rendah hingga sedang, pasien bisa di pasangkan kanula hidung (tabung medis yang melewati kedua lubang hidung) atau masker wajah sederhana (reservoir). Sekitar 1-15 liter oksigen per menit di kirim untuk membuat pernapasan pasien teratur.

Jika di perlukan volume oksigen lebih tinggi, pada pasien di tempatkan kanula hidung aliran tinggi yakni mesin Continuous Positive Airway Pressure (CPAP) atau ventilator. “Oksigen akan di berikan secara kontinyu sampai saturasi oksigen tubuh terpenuhi. Pemberiannya pun melihat saturasinya. Kalau ringan, diberi aliran kecil, kalau terlalu kecil atau masih kurang, kita tingkatkan. Kalau ringan, sekitar 2-4 liter oksigen per menit,” papar Arief.
Dia menyarankan sebaiknya masyarakat memastikan oksigen memang diperuntukkan untuk medis. Oksigen yang diperjual belikan ada dua peruntukan yakni medis dan industri.

Kemudian penggunaan oksigen medis secara mandiri atau di luar fasilitas kesehatan harus berada di bawah pengawasan tenaga medis. Penggunaan oksigen medis atau terapi oksigen adalah salah satu bentuk terapi untuk pasien dan bukan satu-satunya terapi. “Banyak yang berusaha mencari oksigen sendiri. Penanganan Covid enggak sebatas oksigen, itu salah satu bagian dari penanganan,” katanya. Selain itu, perlu ada supervisi dari tenaga medis sebab hanya tenaga medis yang tahu ukuran pemberian oksigen. “Terdapat regulator, jadi tidak serta merta dikasih tinggi. Ini bukan mengobati, malah bikin masalah,” imbuhnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *