Pendidikan Indonesia Butuh Bantuan Robot untuk Maju

Pendidikan Indonesia butuh bantuan Rrobot untuk maju

Sempat sesuatu waktu pemikiran liar aku memusatkan pada suatu hipotesa kalau apakah bisa jadi pembelajaran di negeri kita tidak dapat maju bila dikelola oleh manusia? Gimana tidak, sepanjang puluhan tahun pembelajaran kita hadapi stagnasi, cuma jalur di tempat

Apalagi bila di tarik kebelakang mutu pembelajaran kita malah menyusut bila di banding dengan negeri lain di ASEAN. Aku pula tidak dapat membenarkan apakah ini salah satu wujud pesimisme, apatisme ataupun malah optimisme otokritik supaya pembelajaran kita dapat bergerak maju.

Penyelenggaraan pembelajaran di negeri kita sangat banyak mengaitkan” perasaan”. Mulai dari proses rekrutmen guru yang ketentuan nepotisme. Proses pengembangan sumberdaya manusia yang kelulusannya masih cenderung memakai perasaan.

Kita pula memandang kalau guru sangat banyak main perasaan dalam upaya meluluskan siswa pada satu jenjang persekolahanan.

Dominasi” main perasaan” ini merupakan representasi menipisnya nilai profesionalitas dalam pengelolaan pembelajaran. Sebagian orang berkomentar ini kultural serta sebagian yang lain menyangka ini aksi tidak handal

Rekrutmen guru sebagian waktu yang kemudian masih sangat ketentuan kepentingan( walaupun sebagian tahun terakhir ini telah mulai membaik dengan CAT serta live score).

Profesi

Profesi guru sejak terbitnya PP 74 Tahun 2008( berganti ke PP 19 Tahun 2017) tentang guru jadi suatu profesi yang lumayan menjanjikan. Banyak orang mau jadi guru sebab tunjangan profesinya dalam wujud sertifikasi.

Agak aneh pula memandang seseorang mahasiswa yang tidak sering masuk kelas, skripsinya full plagiat tetapi terangkat jadi guru ASN. Terdapat pula lulusan terbaik LPTK, IPK cum laude, unggul dalam proses perkuliahan wajib jadi honorer yang terluntah- luntah pada suatu sekolah swasta. Bisa jadi ini tentang nasib, tetapi bisa jadi pula sebab aspek lain, aku tidak berani membenarkan.

Proses pembelajaran serta pelatihan guru pula kurang lebih pula” main perasaan”. Jika proses pembelajaran serta pelatihan di orientasikan buat kenaikan mutu mestinya wajib professional tanpa pandang bulu.

Kita melihat dengan jelas gimana proses sertifikasi guru jadi sangat di lematis. Kita mengharapkan pembelajaran profesi guru jadi filter terakhir buat menyaring guru professional.

Ujian Nasional

Saat sebelum UN di tiadakan, kita memandang gimana proses kelulusan siswa di upayakan sedemikian rupa supaya mereka dapat lulus. Guru yang menolong mengerjakan soal setelah itu kunci jawabannya di bagikan ke siswa saat sebelum tes.

Seakan- akan UN ini merupakan tes buat guru sekalian buat sekolah yang mempertaruhkan pamor serta nama baiknya dengan capaian kelulusan siswa yang besar. Ataupun pula pertaruhan mutu guru mata pelajaran tertentu di satu sekolah.

Terdapat suatu persoalan kalau” bila siswa tidak lulus UN sangat yang rusak merupakan pot serta cermin sekolah namun bila memaksakan buat meluluskan siswa yang belum layak lulus hendak mengganggu masa depan bangsa”.

Aku bertanya kepada mahasiswa tentang mungkin robot mengambil alih kedudukan guru di masa depan. Dominan dari mereka menanggapi tidak bisa jadi sebab robot tidak memiliki perasaan.

 

Baca Artikel Kami Lainnya sariteknologi.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *