Pemanfaatan artificial intelligence.

Pemanfaatan Sejak Artificial Intelligence Tingkatkan Ekonomi Industri Kreatif Regional.

Istilah Revolusi Industri  sudah satu dekade sejak pertama kali muncul, sejak di perkenalkan Profesor Wolfgang Wahlster. Di rector and CEO of the German Research Center for Artificial Intelligence. Dan juga pada saat berpidato pada upacara pembukaan Hannover Messe Fair April 2011. Konteks penggunaan istilah tersebut adalah bagaimana perusahaan dapat sukses di wilayah dengan upah yang cukuptinggi pada persaingan global. Dia menyarankan bahwa kita harus siap menghadapi Revolusi Industri ke-4 yang di dorong oleh Internet.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko memandang. Sedangkan penerapan Artificial Intelligence (AI) di industri kreatif meningkat drastis dalam lima tahun terakhir. Hal tersebut seperti dua sisi mata uang, satu sisi kita ingin memastikan bahwa AI akan memberikan begitu banyak manfaat. Bahkan dalam meningkatkan produktivitas para pekerja. Bahkan penyedia, ilmuwan, dan insinyur di sektor industri kreatif. Kemudian untuk menanamkan inovasi ke setiap sudut kepentingan misi dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi. Dan juga kepuasan pelayanan pelanggan/konsumen, dan meningkatkan standar hidup masyarakat.

Di sisi lain, kitajuga harus menyadari bahwa laju cepat Revolusi Industri 4.0 dapat menciptakan beberapa kecemasan terutama karena dapat di pahami bahwa hal itu membawa lebih banyak ancaman dari pada kepercayaan kepada anggota masyarakat yang lebih lemah, yang tidak dapat beradaptasi dengan perubahan yang cepat. Ribuan profesi manual dan pekerja kasar akan segera berkurang, atau upah pekerja biasa mungkin dengan cepat di nilai memiliki kekuatan yang lebih kecil untuk mengimbangi kenaikan biaya.

penurunan laju ekonomi bersama yang di alami negara ASEAN saat ini sebenarnya membawa peluang lebih besar bagi para inovator teknologi untuk menawarkan solusi tajam bagi pemerintah untuk mendengar, karena kita lebih termotivasi untuk mendengar ide-ide inspiratif baru yang hanya dapat ditawarkan oleh masyarakat ilmiah. Melalui “Peta Jalan ASEAN untuk Penelitian dan Pengembangan Kecerdasan Artifisial”, Kepala BRIN meyakini program tersebut akan secara efektif untuk membangun peran kontributif bersama mengatasi masalah mendasar tentang kekhawatiran perubahan yang cepat.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.